|
|
| | | Luh Putu Upadisari | | Sari menciptakan tempat dan waktu bagi pedagang perempuan yang biasanya terpinggirkan di pasar tradisional, agar mereka dapat mengakses layanan kesehatan seksual dan reproduktif melalui organisasinya, Yayasan Rama Sesana. Dia membuka klinik kesehatan di tengah pasar tradisional umum, pasar tanpa harga tetap tempat masyarakat dapat membeli makanan dan barang sehari-hari. Tujuannya adalah agar para pedagang perempuan mendapatkan kesempatan mengakses informasi dan melakukan pemeriksaan rutin kesehatan seksual dan reproduksi dengan harga terjangkau. Dengan membawa layanan semacam ini lebih dekat ke tempat kelompok terpinggirkan ini menghabiskan sebagian besar waktu mereka, Sari menjangkau ribuan pedagang dan pekerja pasar, dan memperbaiki perilaku kesehatan mereka sehingga mampu mengambil tindakan untuk mengedepankan kesembuhan, pemulihan, dan rehabilitasi. Mereka bahkan mampu mengajak pasangan mereka, para pekerja pria, dan pengunjung atau pelanggan lainnya untuk mengunjungi klinik ini, ...
Selengkapnya
| | Willie Smits | | Willie Smits adalah salah satu pembela orangutan dan habitat alaminya, namun lebih dari itu, ia merupakan penemu bidang kehutanan yang menciptakan revolusi pada teknik dan kebijakan reboisasi di seluruh dunia. Sebagai pendiri Borneo Orangutan Survival Foundation dan Masarang Foundation, ia secara konsisten bekerja menangani akar masalah penggundulan hutan dengan berfokus pada hubungan antara dunia binatang, planet kita, dan manusia.
Willie Smits percaya bahwa untuk mengembangkan populasi orangutan, kita harus terlebih dahulu membangun hutan habitat mereka. Namun demikian untuk mencapai solusi yang berkelanjutan, kita juga harus menangani akar masalah sosialnya dengan memberdayakan masyarakat lokal untuk mendapatkan pilihan sumber penghidupan yang lebih baik daripada pembalakan hutan.
Karena upaya perlindungan akan sia-sia tanpa adanya rumah yang aman bagi orangutan, Smits mulai dengan pemulihan hutan hujan tropis ke kondisi asalnya. Dengan tim 100 pekerja lokal, dari ...
Selengkapnya
| | Roem Topatimasang | | Selama 30 tahun, Roem mendidik dan memberdayakan komunitas yang termiskinkan dan terisolasi dari satu tempat ke tempat lain di ribuan pulau di Indonesia, agar mereka mengerti haknya dan dapat mengambil peran dalam proses pengambilan keputusan yang terpusat. Ia membangun massa politis yang kritis dengan menghubungkan berbagai lembaga komunitas lokal, organisasi sektor warga, dan pemerintah lokal hingga menjadi jaringan nasional, kemudian mengintegrasikannya ke jaringan internasional untuk melakukan advokasi bagi hak komunitas perdesaan.
Roem membangun model partisipasi masyarakat untuk memberdayakan komunitas perdesaan yang ditekan secara politis, sosial, dan ekonomi oleh rezim Soeharto. Melalui organisasinya, Institute for Social Transformation (INSIST), Roem membangun institusi lokal sebagai pusat pendidikan bagi komunitas yang terisolasi, terpinggirkan, dan minoritas di daerah perdesaan. Melalui sekolah transformasi sosial, INSIST berupaya memberikan pendidikan ...
Selengkapnya
| | Valentinus Heri | | Di tengah hutan gambut Kalimantan Barat yang penting di mata dunia, tempat para penghuni asli mulai beralih ke pembalakan kayu secara tak berkelanjutan untuk mendapatkan penghasilan, Valentinus Heri memfasilitasi usaha madu hutan yang menggiurkan untuk meningkatkan ekonomi lokal sambil melindungi hutan. Ia menghubungkan para pemanen dari delapan daerah terpencil dan membantu menciptakan landasan bagi komunitas untuk berpartisipasi dalam debat berkelanjutan mengenai cara menyeimbangkan ekspansi komersil ke daerah hutan.
Heri dan organisasinya, Riak Bumi memfasilitasi pengembangan usaha madu yang inovatif di komunitas hutan Kalimantan Barat, memungkinkan penghuni hutan asli menggunakan sumber daya hutan sambil melestarikan keragaman hayati alami. Ia meraih potensi usaha madu hutan yang dibangun oleh generasi sebelumnya dengan cara menghubungkan produsen lokal dengan pasar di luar. Kini para pengumpul madu hutan, yang kebanyakan merupakan orang muda, telah meningkatkan pendapatan ...
Selengkapnya
| | Toto Sugito | | Toto dan organisasinya, Bike 2 Work (B2W) membangun kesadaran mengenai keuntungan ekonomi, kesehatan, dan lingkungan yang didapatkan dari bersepeda bagi para penghuni kota di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Tujuan B2W adalah memperkenalkan bersepeda sebagai cara transportasi yang mudah dan sehat dengan cara mendorong pemerintah menciptakan jalur sepeda dan penitipan sepeda, menyediakan jaringan dukungan pendorong movitasi bagi para pengendara sepeda, dan memberikan akses sepeda yang aman, terjangkau, dan praktis.
Toto berhasil menjembatani jurang antara isu publik seperti pencemaran dan masalah kesehatan dengan gaya hidup pribadi, kemudian mendorong orang untuk mengenali peran masing-masing untuk ikut serta mengatasi masalah sosial yang lebih besar. Ia dan komunitas B2W memberdayakan orang dengan memotivasi mereka mengambil tindakan melawan pencemaran udara dan masalah energi dengan bentuk sederhana, yakni bersepeda dan mengurangi beban lalu lintas kota. B2W ...
Selengkapnya
| | Syafi’I Anwar | | Syafi’i mereformasi sistem sekolah Islam Indonesia dengan memperkaya kurikulum pesantren, yakni menambahkan pengembangan keterampilan praktis dan pelatihan di samping pendidikan agama. Organisasinya, International Center for Islam and Pluralism (ICIP), berupaya menerapkan nilai dan sikap bahwa murid pesantren diajar untuk menangani kebutuhan ekonomi masyarakat dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Ia berkoordinasi dengan sekolah pemerintah untuk mengembangkan kurikulum yang memasukkan gelar setara pendidikan formal, dan membuka hubungan informasi langsung online, yang seringkali terbatas di pendidikan pesantren. Ia bekerja langsung dengan para pemimpin pesantren untuk memperluas teks yang digunakan, dengan harapan memberikan para santri serangkaian refleksi ilmu mengenai teks Islam beserta dengan informasi apapun mengenai bidang lain yang meraka ingin pelajari.
Komunitas yang berada di sekeliling pesantren biasanya miskin dan memiliki pendidikan minim. Model pendidikan Syafi’i ...
Selengkapnya
| | Muchlis L. Usman | | Muchlis merintis gerakan televisi berbasis komunitas di seluruh Indonesia. Kendari TV, didirikan tahun 2003 oleh Muchlis, saat ini menarik 85 persen pemirsa sasaran, dan mematahkan mitos bahwa mendirikan stasiun televisi terlalu mahal untuk dilakukan warga dengan anggaran terbatas. Masyarakat biasa kini menggunakan media ini sebagai alat bagi komunitas mereka, tempat mereka dapat memiliki, merancang, dan menggunakan informasi untuk membangun kewarganegaraan secara efektif. Kendari TV merupakan organisasi pertama yang menggunakan sumber daya yang ada di masyarakat. Cita-cita Muchlis adalah menciptakan pola baru dalam dunia pertelevisian, yang pendorong utamanya bukanlah keuntungan, melainkan keikutsertaan masyarakat secara aktif dalam isu yang memiliki dampak bagi keseharian mereka. Melalui pemrograman aktif, yang mengalokasikan lebih dari 50 persen untuk program dialog publik, berita, dan isu sosial yang menyediakan tempat dan waktu bagi warga untuk menjadi pemirsa aktif, ia ...
Selengkapnya
|
|
|
|
|
|
 |