Di tengah hutan gambut Kalimantan Barat yang penting di mata dunia, tempat para penghuni asli mulai beralih ke pembalakan kayu secara tak berkelanjutan untuk mendapatkan penghasilan, Valentinus Heri memfasilitasi usaha madu hutan yang menggiurkan untuk meningkatkan ekonomi lokal sambil melindungi hutan. Ia menghubungkan para pemanen dari delapan daerah terpencil dan membantu menciptakan landasan bagi komunitas untuk berpartisipasi dalam debat berkelanjutan mengenai cara menyeimbangkan ekspansi komersil ke daerah hutan.
Heri dan organisasinya, Riak Bumi memfasilitasi pengembangan usaha madu yang inovatif di komunitas hutan Kalimantan Barat, memungkinkan penghuni hutan asli menggunakan sumber daya hutan sambil melestarikan keragaman hayati alami. Ia meraih potensi usaha madu hutan yang dibangun oleh generasi sebelumnya dengan cara menghubungkan produsen lokal dengan pasar di luar. Kini para pengumpul madu hutan, yang kebanyakan merupakan orang muda, telah meningkatkan pendapatan mereka delapan kali lipat. Riak Bumi membantu komunitas memasuki pasar yang bersaing dengan mengembangkan teknik panen, pengepakan, dan pemasaran. Dengan usaha yang baru dan menjanjikan ini, penghuni hutan yang termiskinkan tak lagi harus hidup dari pembalakan atau eksploitasi sumber daya hutan dengan cara yang tak ramah lingkungan. Karena kepentingan ekonomi keluarga selalu mendahului pelestarian hutan, masyarakat baru bisa menanggapi inisiatif pelestarian lingkungan dan mengerti dampak berkurangnya sumber daya saat mereka memiliki rasa keterhubungan antara kehidupan mereka dengan hutan.
Keuntungan ekonomi yang tinggi telah menarik kesadaran warga Indonesia secara lebih luas mengenai pentingnya perlindungan hutan, yang merupakan habitat bagi lebah Asia asli penghasil madu, Dorsata, dari eksploitasi hutan secara tak berkelanjutan. Penghasilan yang menjanjikan dan berkelanjutan ini didukung oleh hukum adat, hukum atau kebiasaan yang melindungi hak lahan para penghuni asli, yang menyatakan bahwa hak penduduk lokal harus dipertimbangkan dalam pengelolaan sumber daya alam di dalam atau di sekitar komunitas mereka. Sambil mengembangkan ekonomi lokal dengan menjual hasil hutan di pasar lain, Heri bekerja dengan kewenangan daerah dan pusat untuk menghidupkan kembali hukum yang tak diberlakukan ini untuk memberikan hak legal bagi penduduk lokal untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sumber daya. Ia memfasilitasi hubungan antara komunitas hutan dan lembaga hukum untuk memberlakukan kebijakan yang membatasi eksploitasi komersial daerah hutan. Model ini telah berhasil mengurangi kejadian kebakaran hutan, penangkapan ikan menggunakan peledak, dan praktek tak ramah lingkungan lainnya di lahan Taman Nasional Sentarum, Kamilantan Barat.
Kerja Heri meluas melampaui asalnya di Kalimantan Barat. Komunitas di empat pulau berbeda kini memperluas keberhasilan pemasaran madu hutan. Jaringan produsen ini mampu menjalin hubungan dengan organisasi nasional dan internasional, memungkinkan mereka membangun profil sebagai warga yang mampu melakukan lobi dan peserta aktif dalam pengambilan keputusan di pasar komersil. Heri bermitra dengan NTFP-EP (Non-Timber Forest Products-Exchange Program) untuk mereplikasi model ini di seluruh daerah Dorsata di Asia. Saat ini cara model menggabungkan sumber penghasilan yang berkelanjutan dan perlindungan hutan tengah direplikasi di komunitas di Kamboja, Thailand, dan India.
|